Dunia Perempuan

Tau Lebih “Perempuan” Lebih Tau

Archive for the ‘Keluarga’ Category

Okt
23

Wanita Sudah Waktunya Bangkit

Posted under Keluarga

Zaman sudah berubah.  Ini sudah era millennium.  Jamannya bagi orang-orang yang berpikiran terbuka dan maju untuk perubahan.  Ini yang orang bilang era globalisasi.  Globalisasi memiliki arti yang luas yaitu perubahan dan keterbukaan.

Perubahan tidak hanya dalam bentuk fisik tapi juga mental.  Kita tidak lagi terkurung dibawah tempurung aturan-aturan yang tidak masa nya lagi yakni keluarga yang pikirannya sempit; terutama wanita yang terbiasa untuk di kungkung dalam aturan-aturan penghambat mereka untuk maju.

SMadonnaekarang Siti Nurbaya sudah tidak ada lagi.  Yang ada kini ya Madona dan Angelina Jolie.  Mereka adalah permpuan-perempuan pendobrak jendela kepicikan.  Dengan karakter yang berbeda mereka maju ke baris depan menunjukan pada dunia bahwa wanita pun bisa seperti pria.  Menjalani kehidupan yang berbeda sekaligus; dunia gemerlap dan sisi sosial dimiliki merupakan nilai plus bagi mereka.

Liat saja Madona, material girl ini bukan hanya mampu merubah citranya yang tak sedap menjadi seorang yang sosial.  Dia juga mampu menjadi ibu yang baik bagi anaknya.  Buku cerita anak-anak pun sudah ia buat.  Begitu pula dengan si sexy Angelina Jolie. Sosoknya sudah tidak asing lagi di dunia perfilman Hollywood.

Angelina JolieAksinya yang peduli kemanusiaan membuat banyak orang kagum padanya.  Ia rela mendonasikan sebagian dari harta nya demi untuk sosial.  Tidak hanya itu juga, ia juga telah mengadopsi anak-anak yatim piatu dari beberapa benua.  Sungguh suatu hal yang luar biasa!

Kita punya Cinta Laura di Indonesia.  Meskipun masih muda ia sudah bisa berbagi untuk orang lain.  Sekolah gratis sudah berdiri berkatnya.  Jadi anak-anak yang kurang mampu dapat mengenyam pendidikan.
Sekarang ini berbeda dari jaman dulu.

Sebelumnya, wanita hanya boleh di dapur dan mengurus rumah.  Mereka tidak usah bersekolah karena ada anggapan toh bakal jadi milik orang.  Jadi rugi untuk sekolah ujung-ujung nya pun bakal di dapur dan mengurus keluarga.

Itulah kodrat wanita dan memang benar adanya!  Tapi hal ini tidak bisa dijadikan pembenaran untuk membatasi kaum kita untuk maju kan….  Kita bisa kok seperti kaum pria tanpa melupakan kodrat yang nota bene adalah berkah Tuhan.   Yah, kita harus berterima kasih pada Ibu Kartini.  Berkat beliau lah kaum kita yaitu perempuan bisa bangkit dari keterpurukan.

Bahkan sekarang kita bisa menikmati indahnya pendidikan setinggi-tingginya.  Kita pun sudah tidak picik lagi dalam menghadapi globalisasi.  Kita tuh sudah diakui memiliki kedudukan yang sama di segala bidang.  Dulu tidak ada presiden wanita di Indonesia.  Sekarang kita punya Ibu  Megawati presiden wanita pertama!  Wanita sudah merambah segala bidang.

Mereka telah membuktikan dunia bahwa semua mampu dan bisa dilakoni; menjadi sutradara, sopir taxi, petinju, pembalap, manajer, menteri bahkan pekerjaan yang dulu hanya bisa dilakukan laki-laki juga sekarang dilakukan wanita.

Apakah dengan bangkitnya wanita membuat mereka lupa pada kodratnya ?  Tentu saja tidak.  Kodrat kita adalah memiliki anak dan menjadi istri.  Kita bisa kok.  Lady Diana saja bisa.  Beliau bisa jadi ibu yang baik dengan segudang tugas yang menanti.  Bangkit bukan berarti melupakan kodrat melainkan bangkit untuk persamaan dan hak.  Bangkit dari mentalitas Siti Nurbaya.  Bangkit untuk suatu perubahan.  Karena wanita sangat berharga.

“Ayo bangkit bersama wanita tanpa lupa  karunia Tuhan, Kodratmu. “

Sep
29

Pendidikan Perempuan

Posted under Keluarga

Dalam banyak hal, kaum perempuan dihadapkan pada situasi yang sulit. Disatu sisi dia (perempuan) memiliki keinginan untuk maju dalam edukasi dan karir. Demikian pula, dia banyak dituntut untuk menjaga serta mengurusi sektor demostik. Pada saat dia meraih semua itu (sukses non demostik), maka ada semacam invisible hand yang “mewajibkan” perempuan itu kembali mengurusi sektor demostik. Inilah yang membuat kaum Hawa ini menjadi plinplan, ragu dan selalu cemas.

Lambat laun, mereka menjadi mahkluk paling perasa, dan bukan pemikir. Sebuah hasil riset doktoral mengupas adanya “Fear of Succes” terutama dikalangan perempuan Mandailing dan Padang. Hasilnya menyebut bahwa ketakutan terhadap kesuksesan lebih tinggi dialami oleh perempuan Mandailing.

Persoalannya adalah:
(1) Pada saat kuota 30% dihembuskan,
(2) kesetaraan gender
(3) urusan demostik,
(4) urusan non demostik,
(5) adat. Hampir seluruh perempuan Indonesia menerimanya sebagai nasib dan suratan tangan. Sangat Ironis memang, tapi itulah kenyataannya perempuan kita Indonesia.

Dengan hati jengkel: (Saya) pernah mendengar seseorang perempuan calon Sarjana (S1) berkata: Untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau tock akan kembali ke dapur, sumur dan kasur. Amat sangat disayangkan ketika seorang calon sarjana berkata demikian. Justru sebenarnya, perempuan itu harus lebih tinggi pendidikannya karena, keluarga dan anak (nya) nantinya akan lebih banyak bersama dengan ibunya. Bagaimana mungkin dia dapat membimbing lebih baik, apabila pendidikannya sangat minim.

Viva Perempuan Indonesia, kini saatnya berubah, demi kesetaraan peran dan status di mata publik. (eronddamanik)

Jun
05

Peranan Wanita dalam keluarga

Posted under Keluarga

KeluargaPeranan perempuan dalam keluarga adalah tergantung dari fungsi perempuan dalam keluarga itu sendiri.
Perempuan bisa berfungsi sebagai anak, Ibu, menantu, mertua, adik, kakak dan istri, seperti yang sudah disebutkan diatas tadi.

Perempuan sebagai anak dalam keluarga, biasanya akan mulai mempelajari peranannya sebagai calon ibu dan istri ketika ia melihat bagaimana ibunya menjalankan fungsinya sebagai ibu dan istri.

Banyak hal yang bisa dipelajari oleh anak perempuan ini, secara praktisnya mungkin dengan ikut menjalankan kewajiban-kewajiban ibunya di dalam mengatur kebersihan rumah, di dalam memasak, dan lain-lainnya. Bila ibunya adalah perempuan bekerja, mungkin bisa mempelajari bagaimana cara mengatur waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Perempuan sebagai ibu dalam keluarga, idealnya menjadikan dirinya teladan yang bisa dicontoh anak perempuannya dalam segala hal yang dilakukannya di dalam urusan rumah tangga.

Perempuan sebagai menantu dalam keluarga, idealnya menjadikan keluarga suaminya sebagai keluarga kedua, dan memperlakukan kedua keluarga dengan sama baiknya, karena bila kita menikah, kita menikah tidak hanya dengan orang yang bersangkutan, tetapi juga dengan keluarganya. Ibunya adalah ibu kita juga, ayahnya adalah ayah kita juga.

Perempuan sebagai mertua di dalam keluarga, idealnya harus bisa menyadari bahwa ia sudah “diluar” kehidupan anaknya, dan berfungsi hanya sebagai penasehat dan bukan yang ikut menentukan jalan pernikahan anaknya. Mertua yang baik adalah yang mendukung pernikahan anaknya di dalam doa serta memberikan bantuan nasehat, dan lainnya bila diperlukan.

Perempuan sebagai adik / kakak dalam keluarga, berperan sebagai saudara yang saling memperhatikan , saling mendukung dan saling menghargai sebagai sebuah keluarga.

Perempuan sebagai istri dalam keluarga, berperan sebagai penolong, teman hidup pasangannya di kala suka dan duka. Melayani suami bisa disebut hak kita sebagai istri, bisa juga disebut sebagai kewajiban kita sebagai istri. Istri juga adalah teman berbagi dan teman untuk mendiskusikan segala sesuatunya sebelum keputusan diambil oleh suami sebagai kepala rumah tangga.

Perempuan sebagai istri juga harus tunduk dan taat kepada suami dengan sikap hati yang benar. Artinya, sebagai istri mungkin pendapat kita kadang berbeda, tetapi bila keputusan sudah diambil kita harus mendukung keputusan tersebut, karena di sebuah kapal hanya ada satu nahkoda dan di dalam pernikahan hanya ada satu kepala keluarga. Keep it simple.